Menyeruput Pedas Manisnya Dawet Sambel, Sajian Legendaris dari Kulon Progo

Dawet Sambel Khas Kulon Progo (Sumber: Draft Program Setapak Nusantara)
Share Berita ini ke Sosial Media Lainnya!

Jogja, MMTCMedia — Dawet identik dengan rasa manis dan menyegarkan. Namun dawet sambel justru memadukan rasa manis, pedas, gurih, dan sedikit asin dalam satu suapan. Kombinasi yang terdengar aneh, tapi justru membuat Dawet Sambel khas dan sulit dilupakan.

Hidangan ini lahir dari tangan-tangan kreatif warga Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, di kawasan Perbukitan Menoreh. Bukan hanya sekadar kuliner, dawet sambel telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Kulon Progo yang menjunjung tradisi dan kearifan lokal.

Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, dawet sambel sudah ada sejak masa pra-kemerdekaan. Popularitasnya meningkat pada tahun 1970-an, ketika seorang perempuan muda mulai menjualnya di pasar tradisional setempat.

Ceritanya, hidangan ini berawal dari ide sederhana: seorang penjual dawet dan pecel mencoba menyatukan dua dagangannya dalam satu mangkuk. Siapa sangka, hasilnya justru menciptakan kombinasi rasa yang istimewa.

Keunikan inilah yang kemudian menjadikan dawet sambel sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) milik Daerah Istimewa Yogyakarta sejak 2019. Pengakuan tersebut diberikan untuk melestarikan kuliner lokal yang semakin jarang ditemui di pasaran.

Dawet sambel dibuat menggunakan bahan alami dari hasil bumi lokal. Komponen utamanya terdiri dari tepung ganyong dan tepung aren, yang menjadi bahan dasar pembuatan cendol berwarna hijau alami.

Sambalnya dibuat dari kelapa parut yang digoreng kering, dicampur cabai, gula jawa, sedikit terasi, dan diulek hingga halus. Rasa gurih dari kelapa dan pedas dari cabai berpadu dengan manisnya gula jawa, menghasilkan sensasi yang khas.

Sebelum disajikan, cendol disiram dengan kuah manis dari nira atau gula aren cair, lalu ditambah sambal dan aneka pelengkap seperti tauge, potongan tahu goreng, bawang goreng, serta kerupuk. Perpaduan tekstur dan rasa yang muncul menciptakan pengalaman kuliner yang benar-benar berbeda dari dawet pada umumnya. 

Lebih dari sekadar makanan, dawet sambel memiliki filosofi sosial yang dalam bagi masyarakat Kulon Progo. Campuran berbagai rasa di dalamnya mencerminkan kehidupan warga Menoreh: beragam, tapi tetap menyatu dalam keseimbangan. Dari satu mangkok dawet sambel, kita bisa merasakan perpaduan yang harmonis, seperti kebersamaan masyarakat desa yang hidup rukun meski berbeda latar belakang.

Sayangnya, kuliner khas ini kini semakin sulit ditemukan. Hanya beberapa pedagang yang masih bertahan menjualnya di Pasar Cublak (setiap Rabu dan Sabtu) serta Pasar Jonggrangan (saat pasaran Kliwon dan Pahing).

Salah satu sosok yang dikenal menjaga tradisi ini adalah Mbah Ponirah, perempuan asal Kulon Progo yang sudah puluhan tahun membuat dan menjual dawet sambel. Ia dikenal sebagai pelestari kuliner langka ini, sekaligus inspirasi bagi generasi muda agar tidak melupakan warisan leluhur mereka.

Ada banyak alasan mengapa dawet sambel menjadi kuliner yang layak dicoba. Hidangan ini memiliki rasa yang unik dan berlapis, perpaduan manis, pedas, asin, dan gurih yang jarang ditemukan pada kuliner lain. Bahan-bahannya pun menggunakan hasil bumi lokal yang tidak hanya alami tetapi juga menyehatkan. Lebih dari sekadar makanan, dawet sambel menyimpan nilai budaya yang kuat sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong masyarakat Menoreh.

Bagi wisatawan maupun pencinta kuliner tradisional, dawet sambel adalah sajian yang wajib dicicipi saat berkunjung ke Kulon Progo, sebuah pengalaman rasa yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menghidupkan kembali kehangatan tradisi lokal.

Untuk menikmati Dawet Sambel dengan cita rasa terbaik, sebaiknya datang lebih awal ke pasar tradisional, karena jumlah penjualnya masih terbatas dan sering kali dagangan mereka cepat habis. Pastikan pula mencicipinya dengan takaran sambal dan kuah manis yang seimbang agar rasa pedas, manis, dan gurihnya berpadu sempurna di lidah. Dawet sambel paling nikmat disantap saat siang hari, terutama setelah menjelajahi wisata alam Kulon Progo seperti Kalibiru atau Waduk Sermo yang menawarkan suasana sejuk dan pemandangan indah.

Dawet Sambel bukan sekadar kuliner yang memanjakan lidah. Ia adalah cerita tentang ketekunan, kreativitas, dan warisan budaya lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui pelestarian dan pengenalan kembali kepada masyarakat, diharapkan dawet sambel tidak hanya dikenal di Kulon Progo, tetapi juga menjadi kebanggaan kuliner nusantara.

Penulis : Rr. Asqia Azura Putri

Editor : Ajeng Putri Anggraini C. P. & Febriana Sintasari


Share Berita ini ke Sosial Media Lainnya!