Jogja, MMTCMedia — Mahasiswa sering dihadapkan dengan jadwal kuliah yang padat, tuntutan deadline tugas yang mepet, hingga rapat yang terkadang juga tak kenal waktu. Jika mahasiswa tidak dapat membagi waktu dengan baik, akan berdampak pada kelelahan hingga menjadi burnout.
Lalu bagaimana kita tahu bahwa lelah tersebut menjadi burnout? Mari kita bahas apa itu Academic Burnout, penyebab dan gejala, serta cara mengatasi nya.
Pernahkah kamu merasakan energi benar-benar habis, padahal sudah istirahat cukup? Atau awalnya hanya merasakan stres biasa karena tugas menumpuk? Jika iya jangan membiar hal tersebut menjadi lebih buruk yang berujung hilangnya semangat dan motivasi, dikenal juga dengan Academic Burnout.
Academic Burnout merupakan sebutan kondisi orang yang merasakan kelelahan baik secara fisik, emosional, maupun mental yang berkepanjangan akibat tekanan atau stres kronis. Jika dibiarkan akan berdampak jangka panjang pada kesehatan mental dan fisik hingga berpotensi menjadi depresi.
Dikutip dari Dinas Kesehatan DIY, burnout merupakan kondiis fisik dan mental yang timbul karena stres kronis di tempat kerja, yang ditandai dengan kelelahan emosional, perasaan putus asa, serta penurunan minat dan motivasi terhadap pekerjaaan.
Academic Burnout pada mahasiswa dapat disebabkan dari berbagai faktor yaitu :
- Beban Tugas Berlebih
Jadwal kuliah yang menumpuk, dan kegiatan organisasi seperti rapat yang bahkan terkadang bisa berhari-hari dan hingga larut malam
- Kurang Istirahat
Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk akan membuat pikiran serta fisik cepat lelah
- Manajemen Waktu Buruk
Tidak ada prioritas tugas, menyebabkan semua tidak teratur dan menumpuk.
- Ekspetasi Terlalu Tinggi yang Menyebabkan pressure atas diri sendiri
Gejala Academic Burnout
Burnout tidak datang tiba-tiba, ia adalah hasil dari akumulasi tekanan yang berkepanjangan. Mendeteksi gejala sejak dini adalah kunci untuk mencegah dampak yang lebih buruk pada mental dan prestasi akademik. Jika dibiarkan, burnout dapat mengikis motivasi dan merusak kesehatan kamu secara perlahan.
Gejala academic burnout lebih dari sekadar kelelahan yang dapat menyebabkan masalah psikosomatis nyata seperti sakit kepala, insomnia, dan depresi, itulah sebabnya penting untuk mulai mengambil langkah jika kamu merasakan gejalanya.
Berikut gejala academic burnout :
- Merasa lelah walau sudah merasa tidur cukup, yang mengakibatkan kelelahan dan insomnia.
- Kurangnya semangat untuk menghadiri kelas atau memulai tugas.
- Melampiaskan amarah pada orang lain dan mudah tersinggung, marah atau gelisah karena frustrasi.
- Pesimis pada kemampuan akademik.
- Sering menunda-nunda pekerjaan.
- Muncul masalah kesehatan seperti sakit kepala, nyeri otot, atau ketegangan rahang
- Sulit untuk berkonsentrasi pada tugas atau pekerjaan.
Cara Mencegah dan Mengatasinya
Untuk mencegah dan mengatasi burnout melibatkan perubahan kebiasaan yang mudah namun berdampak besar. Bagi mahasiswa penting menciptakan keseimbangan kehidupan-kerja (work-life balance) yang sehat, termasuk membagi waktu dengan baik.
Cara mencegah dan mengatasi terjadinya Academic Burnout :
- Jaga Kesehatan Fisik dan Mental
Pastikan kamu mendapatkan banyak latihan fisik, tetap terhidrasi, mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang untuk menjaga pikiran dan tubuh tetap sehat, dan menjaga pola tidur agar tetap berkualitas
- Membagi Prioritas
Tetapkan tujuan yang wajar dan patuhi itu. Hindari penundaan karena hanya akan berujung pada kurang tidur dan lebih banyak stres. Keterampilan manajemen waktu yang baik adalah faktor kunci untuk tetap berada pada tujuan dan tak lupa tetap membangun relasi baik dengan sesama
Kini kamu telah memahami apa itu kelelahan akademik (academic burnout), mulai dari definisi, tanda-tanda, hingga strategi penanganannya. Memulihkan diri dari kondisi ini memang bukan perjalanan yang instan dan membutuhkan komitmen kuat, tetapi dengan menerapkan langkah-langkah yang ada dan memanfaatkan sistem dukungan yang ada, kamu pasti dapat pulih sepenuhnya dan kembali pada performa semangat baru.
Penulis : Kamila Nauli Panggabean
Editor : Ajeng Putri Anggraini C. P. & Febriana Sintasari





