Jogja, MMTCMedia — Perkembangan kecerdasan buatan dan hadirnya chatbot di ponsel maupun laptop membuat akses informasi, ide, bahkan teman ngobrol menjadi semakin instan. Teknologi ini mempercepat pekerjaan, membantu mengurai gagasan, hingga mendampingi proses belajar. Namun, sama seperti media sosial bertahun-tahun lalu, teknologi yang sangat memudahkan selalu punya sisi lain. Jika penggunaan tidak dikendalikan, risiko mengabaikan waktu tidur, mengurangi pertemuan sosial, dan tumbuhnya pola ketergantungan bisa muncul tanpa terasa.
Karena itu pedoman penggunaan AI dan chatbot menjadi penting. Pemerintah Indonesia melalui Kominfo telah menerbitkan pedoman etika AI dan mendorong program literasi digital agar masyarakat memahami cara pakai yang aman dan kritis. Di sisi kesehatan, Kemenkes telah mengingatkan bahwa penggunaan gawai berlebihan dapat memengaruhi tidur, suasana hati, dan konsentrasi. Laporan penelitian internasional tentang penggunaan internet dan aplikasi otomatis juga menunjukkan pola yang sama: waktu layar berlebihan dapat menurunkan kualitas tidur, memicu kecemasan, dan menurunkan atensi serta fungsi eksekutif otak. Temuan ini relevan untuk penggunaan chatbot, karena chatbot adalah bagian dari ekosistem digital yang sama.
Salah satu mahasiswa mengaku bahwa AI memang menawarkan kemudahan dan kenyamanan di tengah padatnya tugas kampus, tetapi juga menyimpan risiko membuat kita terlalu cepat menyerah berpikir sendiri.
“Aku merasa AI itu kayak ‘teman ngobrol yang selalu jawab’. Tapi kalau aku kebanyakan pakai buat hal-hal sepele, aku jadi gak latihan mikir. Jadi sekarang aku pakai AI cuma saat stuck. Kalau masih bisa mikir sendiri, aku paksakan dulu,” kata Adit (20), mahasiswa manajemen sebuah perguruan tinggi di DIY itu.
Prinsip “Main AI Sehat” menekankan bahwa sebelum membuka chatbot, sebaiknya pengguna menetapkan niat dan tujuan. Sesi interaksi lebih baik berbasis kebutuhan spesifik, bukan sekadar mengisi waktu kosong. Batas waktu yang wajar juga penting, misalnya membatasi satu sesi percakapan dengan timer agar tidak berlarut hingga larut malam.
Informasi yang diperoleh dari chatbot perlu diverifikasi kembali, terutama jika menyangkut keputusan kesehatan, keuangan, hukum, atau keputusan hidup yang serius. Dalam studi dan pedoman etika AI (termasuk yang disusun Kominfo dan referensi UNESCO), akurasi dan akuntabilitas informasi selalu menjadi pilar utama. Selain itu, peran manusia sebagai sumber dukungan sosial tetap perlu dijaga.
Jika seseorang merasa lebih nyaman curhat hanya kepada chatbot setiap hari, kondisi emosional perlu diawasi, dan rujukan profesional bisa dipertimbangkan terutama jika muncul kecemasan atau kesedihan berkepanjangan. Dan terakhir, pengelolaan privasi data tidak boleh diabaikan. Dokumen kebijakan AI nasional menekankan agar pengguna memahami apa yang mereka unggah, bagaimana data diproses, dan hak apa yang mereka miliki.
Untuk konteks keluarga, orang tua dan pendidik berperan penting dalam membentuk literasi digital sejak dini. Kemenkes menekankan perlunya membatasi durasi gawai sesuai usia dan melakukan pendampingan konten agar anak tidak terpapar pola penggunaan digital yang tidak sehat. Aktivitas offline tetap harus dibangun untuk mengimbangi kemudahan interaksi digital.
Penulis: Rr. Asqia Azura Putri
Editor : Ajeng Putri Anggraini C. P. dan Febriana Sintasari





