Ruang Publik UGM Menjadi Sumber Penghasilan Ibu Sumilah di Usia Senja
YOGYAKARTA –Pinggir kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi tempat Ibu Sumilah berjualan tisu setiap hari. Sejak masa pandemi COVID-19, perempuan yang hidup sendiri itu datang mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WIB untuk menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang melintas.
Dalam sehari, ia bisa memperoleh sekitar Rp50 ribu, tergantung tisu yang terjual. Perempuan yang hidup sendiri sejak suaminya meninggal pada 2010 itu hanya membawa pulang sekitar Rp50 ribu per hari tergantung tisu yang terjual di hari itu.
Selama enam jam berjualan, Ibu Sumilah menawarkan tisu kepada orang-orang yang melintas di sekitar kawasan UGM. Selain berjualan tisu, ia juga bekerja sebagai pembantu untuk menambah penghasilan bulanannya.
Berjualan Sejak Masa Pandemi
Ibu Sumilah mulai berjualan tisu di kawasan UGM sejak masa pandemi COVID-19. Sejak saat itu, ia terus berjualan tisu untuk menambah penghasilan sehari-hari
Selama enam jam berjualan, ia berada di pinggir kawasan UGM sambil menawarkan tisu kepada mahasiswa maupun pengguna jalan yang melintas. Selama enam jam, ia menjalani aktivitas berjualan sambil melihat lalu lalang mahasiswa maupun pengguna jalan yang melewati kawasan tersebut.
Selain berjualan tisu, Ibu Sumilah juga bekerja sebagai pembantu. Penghasilan dari pekerjaan tersebut ia gunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Tadi aja saya diusir mba barusan datang, disuruh pergi sama satpol nya UGM, padahal baru aja saya mau nata tisu”, ujarnya.
Tetap Bekerja Setelah Suami Meninggal
Ibu Sumilah telah hidup sendiri sejak suaminya meninggal pada 2010. Kini, ia menjalani kesehariannya dengan tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Anaknya terkadang datang berkunjung, meski waktunya tidak menentu. Di tengah kondisi tersebut, Ibu Sumilah tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa, termasuk berjualan tisu di sekitar UGM.
Bagi Ibu Sumilah, berjualan menjadi salah satu cara untuk memperoleh penghasilan secara mandiri. Meski hasil yang didapat tidak selalu sama setiap harinya, pendapatan dari tisu tetap menjadi bagian dari penghasilannya.
Ruang Publik Menjadi Tempat Mencari Nafkah
Kawasan publik di sekitar UGM tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa dan pengguna jalan untuk beraktivitas. Bagi Ibu Sumilah, area tersebut juga menjadi tempat untuk mencari penghasilan sejak masa pandemi.
Selama enam jam setiap hari, ia menjalani aktivitas berjualan dengan membawa tisu dari Pasar Kranggan. Hasil penjualan yang diperoleh kemudian menjadi salah satu sumber untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di usia yang tidak lagi muda, aktivitas tersebut tetap dijalani bersama pekerjaannya sebagai pembantu. Rutinitas itu membuat Ibu Sumilah tetap memiliki sumber penghasilan dari lebih dari satu pekerjaan.