Volatilitas Rupiah 7,30 Persen, Lebih Rendah dari Sejumlah Mata Uang Asia
JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada di tengah tekanan pasar keuangan global. Meski demikian, Bank Indonesia mencatat volatilitas rupiah hingga 29 September 2026 berada di level 7,30 persen, lebih rendah dibandingkan sejumlah mata uang negara Asia.
Mengutip laporan detikFinance, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea menyampaikan bahwa volatilitas rupiah masih lebih rendah dibandingkan beberapa mata uang di kawasan.
BI mencatat volatilitas won Korea Selatan berada di level 15,6 persen. Sementara itu, volatilitas peso Filipina mencapai 8,7 persen dan ringgit Malaysia sebesar 8,59 persen. Adapun volatilitas rupiah berada pada level 7,30 persen.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah secara year to date hingga 29 September 2026 telah mengalami depresiasi sebesar 7,74 persen dibandingkan posisi akhir 2025.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar Amerika Serikat. Berdasarkan keterangan BI yang dikutip detikFinance, indeks dolar AS atau DXY telah berada di atas level 101.
Selain penguatan dolar AS, sejumlah faktor global turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Kondisi fiskal Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil surat utang AS, serta perkembangan harga minyak menjadi beberapa faktor yang diperhatikan Bank Indonesia.
Tekanan juga datang dari kebutuhan valuta asing di dalam negeri, termasuk kebutuhan importir. Kondisi tersebut turut memengaruhi dinamika nilai tukar rupiah di pasar.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia terus melakukan intervensi melalui sejumlah instrumen di pasar valuta asing, termasuk Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Bank Indonesia menyatakan langkah stabilisasi akan terus dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi global maupun domestic
SUMBER: detikFinance