Jogja, MMTCMedia — Kisah HasTerra Creative adalah cerminan semangat dan kegigihan Rizky Juniyanto, seorang pemuda kelahiran 1998. Rizky berhasil mengubah potensi lokal menjadi bisnis batik yang sukses. Berdiri sejak tahun 2022, HasTerra Creative kini tak hanya menjadi penggerak ekonomi di Gedangsari, tetapi juga telah menjadi pemasok batik bagi sejumlah instansi pemerintah dan brand besar.
Berawal dari Program UNESCO dan Keterpaksaan
Meskipun HasTerra Creative baru resmi berdiri pada 2022, Rizky sendiri telah mulai membatik sejak 2016 dan mengikuti program UNESCO pada 2017. Rizky memiliki latar belakang keluarga buruh batik, di mana ibu dan simbahnya juga seorang buruh. Ia pun merasakan pengalaman serupa, bekerja di Klaten dari SD hingga SMA.
“2017 saya memulai dari UNESCO program, program dari UNESCO. Pelatihan branding, dapat kolaborasi dengan beberapa brand, terus kolega juga yang akhirnya membawa sampai di titik ini,” ucap Rizky, Sabtu (1/11/25).
Keinginan untuk memiliki usaha sendiri muncul saat SMA. Namun, kesiapan mentalnya belum sepenuhnya matang saat itu. Ia merasa “dipaksa” oleh program UNESCO untuk siap, sebuah proses yang ia sebut “dilahirkan secara prematur”. Didampingi oleh dinas terkait dari provinsi, usaha ini akhirnya bisa berjalan hingga saat ini.
Pengalaman mendapatkan pelatihan branding dan menjalin kolaborasi dengan beberapa brand serta kolega turut membawa HasTerra sampai di titik ini.
Gedangsari, Desa Ber-DNA Batik
Kecamatan Gedangsari, tempat HasTerra Creative beroperasi, memang sudah memiliki “DNA batik”. Dahulu, para ibu di sana sudah terbiasa membatik. Ia menceritakan bahwa dulu juragan dari Solo dan Jogja yang sudah memiliki brand besar sering datang ke Gedangsari. Mereka membawa kain untuk dibatik, kemudian dikirim kembali untuk diproses, dan dikembalikan lagi ke Gedangsari untuk dibatik ulang hingga dua sampai lima kali.
Pemerintah daerah melihat kegiatan ini sebagai peluang. Melalui dinas terkait, mereka mendampingi para pembatik agar bisa memutar uang sendiri, membantu perputaran ekonomi, dan tidak hanya menjadi buruh. Seiring berjalannya waktu, perkembangan batik di Gedangsari menjadi luar biasa dan akhirnya ditetapkan sebagai Desa Budaya yang disahkan oleh Guberur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Kolaborasi Seribu Tangan
Nama HasTerra diambil dari kata Hasta yang berarti tangan, dan Terra (satuan penyimpanan) yang dapat menyimpan berjuta-juta file. Ini melahirkan tagline mereka: “Collaboration of a thousand hand”, yang maknanya adalah batik tersebut dibuat oleh berjuta tangan.
Saat ini, HasTerra Creative dibantu oleh sekitar 25 lebih pembatik dengan rentang usia yang cukup luas, antara 27 hingga 70 tahun. Beberapa di antaranya adalah Bu Harti (63 tahun) dan Bu Sadilem (60 tahun).
Target pasar HasTerra Creative terbagi dua yakni Supplier ke brand besar: Mereka menyuplai ke beberapa brand besar, dengan yang paling sering adalah Batik Keris.
Kedua, instansi Pemerintah, mereka juga menargetkan instansi pemerintah seperti Bank Indonesia (BI), Pertamina, Kementerian Pariwisata, dan PLN. Produk HasTerra bahkan sudah dipakai oleh BI.
Selain itu HasTerra juga menerima custom order dan terbuka untuk menyuplai bagi yang tertarik membuka toko batik. Bagi bagi yang tertarik, HasTerra menawarkan custom batik dengan kisaran harga Rp200.000,00 untuk batik cap, dan Rp500.000,00 hingga Rp1. 000.000,00 untuk batik tulis.
HasTerra Creative berkomitmen pada kelestarian lingkungan dengan menggunakan pewarna alami yang lebih banyak daripada pewarna sintetis. Beberapa bahan pewarna alami yang sering digunakan antara lain buah jolawe (yang paling sering dipakai), kulit kopi, kulit jambal, dan mahoni.
Meskipun memiliki harapan dan rencana lain, saat ini fokus HasTerra adalah pada kolaborasi dan mencari kolega di kota Jogja atau Jakarta yang dapat diajak kerja sama.
Penulis : Kamila Nauli Panggabean
Editor : Ajeng Putri Anggraini C. P. dan Febriana Sintasari





