Jakarta – Seorang guru seni budaya di salah satu SMK negeri Jakarta Utara Penjaringan, yang berinisial H (40) melecehkan 11 muridnya saat jam Pelajaran dimulai. Berdasarkan keterangan para korban, H memanggil para korban satu persatu untuk ke ruang seni budaya dengan dalih untuk mengajarkan music dan lagu. Namun, dibalik itu, pelaku meluncurkan Tindakan kejinya dengan memegang tangan, bahu, paha, dan rambut muridnya.
Kepala sekolah NG, sudah melakukan Tindakan tegas terhadap pelaku setelah menerima laporan dari korban “Dari hasil klarifikasi yang kami lakukan, terdapat 11 korban yang melaporkan kasus pelecehan ini,” kata NG pada Selasa (8/10/2024). Angka ini didasarkan pada keterangan resmi yang diberikan oleh para siswi.
Setelah proses BAP yang dilakukan oleh sekolah selesai, NG langsung mengambil Tindakan tegas dengan memecat H dan sementara dinonaktifkan dari pekerjaannya. “Itu yang bersangkutan dinonaktifkan jadi guru, ditempatkan di kantor Kecamatan Tanjung Priok. Jadi sudah ditangani sedang berproses,” kata Purwosusilo. NG pun sudah meminta bantuan kepada Kepala dinas untuk turut membantu menindak tegas pelaku kejahatan seksual yang terjadi di sekolahnya.
Pejabat (PJ) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono akan menindak tegas terhadap kasus pelecehan yang terjadi. Heru secara langsung meminta Dinas Pendidikan mengecek kasus pelecehan seksual yang terjadi di SMK Negeri Jakarta Utara itu “Saya sudah minta kepada Kepala Dinas, kalau ada yang seperti itu ditindak tegas. Nanti mekanisme administrasi melalui Inspektorat,” ujar Heru Budi saat ditemui usai rapat di Gedung DPRD Jakarta, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2024).
Kepala Sekolah NG juga menjelaskan kronologi singkat kejadian yang alami oleh murid – muridnya tersebut. “Awalnya, ada laporan dari seorang siswa yang disampaikan oleh guru kepada saya. Setelah diklarifikasi, terungkap bahwa ada sekitar 11 siswa yang mengalami hal serupa,”Ujar NG, tanpa menyebutkan identitas anak didiknya yang menjadi korban.
Pihak sekolah tidak hanya mengambil tindakan terhadap pelaku, tetapi juga memberikan perhatian khusus kepada para korban. NG mengatakan bahwa sekolah telah mendatangkan psikolog untuk membantu pemulihan psikologis korban agar trauma yang mereka alami bisa diminimalisasi.
Penulis : Maharani Diah
Redaktur : Bayu Putera