Jejak Kuliner Lawas Malioboro

Angkringan Kopi Pak Arve, Salah Satu Angkringan yang cukup ramai yang berlokasi di Malioboro (Sumber : Amelia Puspa)
Share Berita ini ke Sosial Media Lainnya!

Jogja, MMTCMedia — Malioboro tak hanya dikenal sebagai pusat perbelanjaan dan budaya, tetapi juga surga bagi kuliner lawas khas Yogyakarta. Kuliner lawas di Malioboro seringkali merujuk pada makanan yang sudah ada sejak zaman kolonial atau bahkan lebih tua lagi. 

Makanan ini tidak hanya memiliki cita rasa yang khas, tetapi juga sarat akan tradisi dan filosofi budaya. Dari makanan tradisional yang sederhana hingga jajanan pasar yang manis, kuliner di Malioboro memiliki segala sesuatu yang bisa membawa siapa saja untuk merasakan suasana masa lalu Yogyakarta.

Banyak pedagang makanan yang sudah berjualan selama puluhan tahun, dan beberapa bahkan diwariskan turun-temurun, menjadikannya sebagai salah satu bagian dari identitas Kota Yogyakarta.

  1. Angkringan

Angkringan, merupakan salah satu kuliner yang menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana malam di Malioboro. Angkringan adalah warung makan sederhana yang menawarkan berbagai makanan kecil, yang sering dijajakan dengan cara yang khas di sepanjang Jalan Malioboro, menambah kehangatan kota yang selalu ramai ini. Sebagai simbol kuliner rakyat Yogyakarta, angkringan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, serta daya tarik yang mengundang para wisatawan untuk merasakannya.

Di sepanjang Jalan Malioboro, angkringan tersebar di berbagai sudut, menawarkan suasana yang khas dan menggugah selera. Apa yang membuat angkringan di Malioboro begitu istimewa adalah keberadaannya yang sudah menjadi bagian dari tradisi kuliner Yogyakarta, serta cita rasa yang khas dan harganya yang sangat terjangkau. 

Bagi warga Yogyakarta, angkringan adalah tempat untuk bersantai, ngobrol dengan teman-teman, atau bahkan sekadar menikmati kehangatan secangkir kopi atau teh.

  • Gudeg, hidangan khas yang tak lekang oleh waktu

Tak bisa dipungkiri, Gudeg adalah ikon kuliner Yogyakarta yang paling dikenal, dan Malioboro adalah salah satu tempat terbaik untuk menikmatinya. Gudeg adalah hidangan berbahan dasar nangka muda yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah, menghasilkan cita rasa manis, gurih, dan kaya akan bumbu. Di sekitar kawasan Malioboro, terdapat beberapa warung gudeg legendaris yang sudah beroperasi lam, seperti Gudeg Mbah Lindu, yang hingga kini tetap menjadi pilihan utama bagi pengunjung.

Gudeg yang dijajakan di Malioboro tidak hanya menyuguhkan rasa, tetapi juga pengalaman. Sering kali, makanan ini disajikan dengan nasi putih, ayam kampung, telur, dan sambal krecek, menciptakan kombinasi rasa yang sempurna. Sensasi menikmati Gudeg di warung yang sederhana dengan suasana jalan yang riuh adalah pengalaman yang tak bisa ditemukan di tempat lain.

  • Bakmi jawa, mie goreng dengan sentuhan tradisional

Bakmi Jawa adalah hidangan mie goreng khas Yogyakarta yang kaya akan rasa. Dengan campuran bumbu rempah yang khas dan cara memasak yang menggunakan api besar, bakmi ini memiliki rasa yang kuat dan memikat. 

Bakmi Jawa di Malioboro biasanya disajikan dengan berbagai pilihan tambahan, seperti ayam kampung, babi panggang, dan telur. Keunikan dari bakmi jawa adalah cara memasaknya yang menggunakan penggorengan tradisional, yang menciptakan rasa khas yang tak bisa ditemukan di tempat lain.

Kuliner lawas di Malioboro lebih dari sekedar makanan, mereka adalah bagian dari sejarah hidup Yogyakarta. Setiap warung, setiap pedagang, dan setiap hidangan yang disajikan di sepanjang jalan Malioboro memiliki cerita panjang yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Bagi pengunjung yang datang, mencicipi makanan-makanan ini bukan hanya soal menikmati rasa, tetapi juga menghayati budaya dan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Malioboro adalah tempat di mana waktu terasa berhenti, memberi kesempatan bagi siapa saja untuk menjelajahi dan merasakan keindahan rasa dan sejarah kuliner yang abadi. Jika Anda berkunjung ke Yogyakarta, tak lengkap rasanya jika belum menjelajahi kuliner lawas di sepanjang jalan Malioboro ini.

Penulis : Agnes Monica Berliana

Editor : Ajeng Putri Anggraini C. P. dan Febriana Sintasari


Share Berita ini ke Sosial Media Lainnya!